SURABAYA – Pelopornews.co.id – Momentum Hari Kesaktian Pancasila yang diperingati setiap 1 Oktober telah kehilangan substansinya dan terjebak dalam seremoni tahunan yang semu. Aktivis sekaligus pengamat sosial, Eko Gagak, secara lantang menyatakan bahwa Pancasila telah kehilangan “kesaktiannya”. Menurutnya, kehancuran ini bukan karena kegagalan kelima sila tersebut, melainkan akibat pengkhianatan sistemik oleh para penyelenggara negara dan runtuhnya moralitas bangsa.
Eko Gagak menegaskan bahwa 28 tahun reformasi hingga kini musuh utama Pancasila bukan lagi pemberontakan fisik seperti tragedi kelam G30S/PKI, melainkan kemiskinan terstruktur dan korupsi yang merajalela. Dua fenomena ini disebutnya sebagai bentuk penistaan paling nyata terhadap darah para Pahlawan Revolusi yang gugur demi mempertahankan ideologi negara.
“Ketika korupsi dianggap biasa dan kemiskinan rakyat diabaikan, maka kita sebenarnya sedang meminum darah para Pahlawan Revolusi yang telah mengorbankan nyawa mereka. Ini adalah pengkhianatan terbesar terhadap amanat pendiri bangsa,” ujar Eko Gagak dalam keterangan tertulisnya, Minggu (4/10/2026).
Eko Gagak menyoroti adanya degradasi moral yang luar biasa di berbagai lapisan generasi. Ambisi destruktif untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan telah memutus mata rantai nilai-nilai Pancasila. Ia membedah bagaimana kelima sila telah bergeser makna secara mengerikan di ranah realitas sosial-politik:
Sila ke-1: Ketuhanan Yang Maha Esa telah bergeser secara pragmatis menjadi “Keuangan Yang Maha Kuasa”, di mana materi mengendalikan moral, hukum, dan iman.
Sila ke-2: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab berubah wajah menjadi ketimpangan sosial ekstrem dan kebiadaban sosial.
Sila ke-3: Persatuan Indonesia dan semangat gotong royong telah runtuh, digantikan oleh budaya individualistis yang egois dan memecah belah.
Sila ke-4: Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan telah dibajak oleh segelintir elit politik dan oligarki.
Sila ke-5: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia telah mati. Hukum dan keadilan menjadi barang mewah yang hanya berpihak pada penguasa dan konglomerat.
Lebih lanjut, Eko Gagak memperingatkan bahwa tanpa adanya pembersihan total pada sistem bernegara dari cengkeraman keserakahan kekuasaan, peringatan Hari Kesaktian Pancasila setiap tahun hanya akan menjadi sandiwara politik belaka. Pancasila sebagai karakter bangsa tidak boleh sekadar menjadi pajangan dinding atau teks yang dibacakan saat upacara.
“Pada bagian akhir, penulisan tanpa pamrih dan bayaran ini menekankan bahwa diperlukan revolusi moralitas penegak hukum, pemangkasan gurita oligarki, serta pengembalian kedaulatan penuh ke tangan rakyat jika bangsa ini ingin selamat dari ambang kehancuran sistemik,” pungkas Eko Gagak.
(Red)
![]()
