SURABAYA – Pelopornews.co.id – Memasuki Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah yang bertepatan dengan tradisi Malam Satu Suro, aktivis sosial Eko Gagak kembali menyampaikan pandangannya terkait makna spiritual dan dinamika sosial yang berkembang di tengah masyarakat.
Dalam tulisan bertajuk “Eko Gagak Episode 2: Perpaduan Antara Energi Suro dan Kuda Api Membawa Potensi Konflik”, ia menyoroti pentingnya pengendalian diri di tengah perubahan zaman yang berlangsung begitu cepat.
Menurut Eko Gagak, bulan Muharam memiliki nilai historis yang sangat penting dalam perjalanan Islam. Kalender Hijriah yang ditetapkan pada masa Khalifah Umar bin Khattab berawal dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah, yang menjadi tonggak perubahan besar dalam peradaban Islam.
Di sisi lain, masyarakat Jawa juga mengenal Malam Satu Suro sebagai momentum spiritual yang sarat makna. Namun seiring perkembangan zaman, muncul pertanyaan mengenai apakah Satu Suro masih dianggap sakral seperti dahulu atau telah mengalami pergeseran makna di tengah masyarakat modern.
Eko Gagak menilai tahun 2026 yang dikaitkan dengan simbol Kuda Api membawa karakter energi yang kuat, penuh ambisi, agresif, dan transformatif. Kondisi tersebut disebut berpotensi memicu gesekan sosial, konflik interpersonal, hingga tindakan yang dilakukan secara impulsif apabila tidak disikapi dengan bijaksana.
“Di saat dunia bergerak cepat dan emosi mudah terpancing, Satu Suro mengajarkan pentingnya menjaga ketenangan, berpikir jernih, dan tidak terburu-buru mengambil keputusan yang dapat menimbulkan dampak buruk,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah tergoda mengambil keputusan besar, terutama dalam bidang investasi atau aktivitas yang berisiko tinggi hanya karena mengikuti tren atau dorongan sesaat.
Secara historis, tradisi Satu Suro dibakukan oleh Sultan Agung dari Kerajaan Mataram pada tahun 1633 Masehi dengan tujuan menyatukan penanggalan Saka dan Hijriah. Langkah tersebut dilakukan untuk menciptakan keselarasan antara pemerintahan dan masyarakat dalam menjalani kehidupan berbangsa dan berbudaya.
Meski kerap dikaitkan dengan berbagai ritual dan mitos yang berkembang di masyarakat, Eko Gagak menegaskan bahwa nilai utama Satu Suro sesungguhnya terletak pada refleksi diri, peningkatan spiritualitas, serta upaya menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan Yang Maha Esa.
Menurutnya, tradisi ini tidak semata-mata bertujuan melestarikan warisan budaya leluhur, tetapi juga menjadi pengingat agar masyarakat terus memperbaiki akhlak, meningkatkan kualitas ibadah, dan menjauhi perbuatan yang bertentangan dengan ajaran agama.
Malam Satu Suro tahun ini jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026. Momentum tersebut dinilai sebagai waktu yang tepat untuk melakukan introspeksi dan mengevaluasi perjalanan hidup selama setahun terakhir.
Eko Gagak juga melihat adanya perubahan pola perayaan di tengah masyarakat.
Generasi muda cenderung lebih terbuka terhadap bentuk-bentuk perayaan yang modern dan rasional, sementara generasi yang lebih tua masih mempertahankan tradisi dan kepercayaan yang diwariskan oleh leluhur.
“Pada akhirnya, bukan soal apakah Satu Suro masih sakral atau tidak, melainkan bagaimana kita memaknai nilai-nilai kebaikan yang terkandung di dalamnya,” ujarnya.
Ia berharap peringatan 1 Muharam 1448 Hijriah dapat menjadi titik awal bagi setiap individu untuk menjadi pribadi yang lebih baik, bermanfaat bagi sesama, serta senantiasa memperoleh keberkahan dan ridha dari Tuhan Yang Maha Esa.
“Selamat Tahun Baru Islam 1448 Hijriah/2026 Masehi.” tutupnya.
(Red/Iful)
![]()
