SURABAYA – Peloponews.co.id – Lomba Kampung Pancasila 2026 memasuki tahap verifikasi lapangan. Pada tahapan ini, kondisi lingkungan menjadi salah satu perhatian utama tim penilai, terutama dalam melihat praktik pemilahan sampah, inovasi pengelolaan lingkungan, hingga keterlibatan warga menjaga kebersihan kampung.
Verifikasi dilakukan untuk memastikan kondisi di lapangan sesuai dengan data dan informasi yang telah disampaikan peserta melalui aplikasi Sayang Warga. Verifikasi berlangsung hingga 1 Oktober mendatang dan dilakukan secara tertutup tanpa pemberitahuan sebelumnya kepada pihak RW.
Sebanyak 184 fasilitator yang terdiri atas koordinator wilayah, koordinator kecamatan, dan petugas lingkungan diterjunkan untuk melakukan pemeriksaan di sejumlah lokasi. Mereka melihat langsung kondisi lingkungan sekaligus mencocokkannya dengan data yang telah diunggah peserta.
Koordinator Pilar Lingkungan sekaligus Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya M. Fikser mengatakan verifikasi menjadi bagian penting untuk memastikan program dan aktivitas yang dilaporkan peserta benar-benar berjalan di lingkungan masing-masing.
“Karena kita harus menetapkan 500 RW, kini dilakukan verifikasi lapangan tahap pertama. Kita ingin memastikan apa yang diunggah di aplikasi benar-benar sesuai kenyataan di lapangan,” ujar Fikser, Rabu (30/9/2026).
Dalam tahapan awal ini, dari 1.360 RW yang mendaftar, sebanyak 950 RW masuk proses verifikasi. Jumlah tersebut masih dapat berubah sesuai hasil pemeriksaan hingga tahapan verifikasi ditutup.
Setelah 500 RW ditetapkan, peserta akan diberi waktu sekitar satu bulan untuk melakukan persiapan sebelum kembali mengikuti verifikasi tahap kedua. Proses selanjutnya akan menyaring peserta hingga tersisa 200 RW unggulan.
Fikser mengatakan aspek lingkungan mendapat perhatian besar karena pengelolaan lingkungan tidak hanya dilihat dari kondisi fisik kampung, tetapi juga dari partisipasi masyarakat dan keberlanjutan kegiatan yang dilakukan.
“Pemilahan sampah, inovasi pengelolaan sampah, serta ekosistem lingkungan yang terjaga itulah nilai yang paling besar kami perhatikan,” tegasnya.
Sejumlah indikator lingkungan menjadi bagian dari penilaian. Di antaranya keterlibatan warga dalam pemilahan sampah, keberadaan bank sampah, frekuensi kerja bakti, penerapan pola hidup bersih dan sehat, serta upaya pemberantasan jentik nyamuk.
Dengan demikian, kampung yang dinilai bukan sekadar terlihat bersih saat pemeriksaan. Tim juga melihat bagaimana kebiasaan menjaga lingkungan dibangun dan dijalankan bersama oleh masyarakat.
Antusiasme warga terhadap tahapan lomba juga terlihat sejak proses verifikasi dimulai. Sejumlah warga aktif berkonsultasi dengan dinas terkait untuk memahami indikator penilaian dan hal-hal yang perlu dipersiapkan di wilayah masing-masing.
“Antusiasme warga sudah luar biasa. Mereka datang bertanya dan berdiskusi mengenai apa yang perlu dipersiapkan. Ini menunjukkan kesadaran dan semangat berpartisipasi nyata,” ungkapnya.
Secara keseluruhan, penilaian Lomba Kampung Pancasila 2026 memiliki empat pilar penilaian, yakni lingkungan, ekonomi, sosial budaya, serta kemasyarakatan. Pilar lingkungan dan ekonomi masing-masing berbobot 35 persen, sedangkan sosial budaya dan kemasyarakatan masing-masing 15 persen.
Selain lingkungan, aspek ekonomi juga melihat kemandirian warga sekaligus kepedulian terhadap masyarakat sekitar. Dukungan kepada warga yang membutuhkan, akses pendidikan bagi keluarga kurang mampu, serta aktivitas kewirausahaan generasi muda menjadi bagian yang diperhatikan.
Pada pilar kemasyarakatan, penilaian mencakup keterlibatan warga dalam menjaga keamanan dan ketertiban lingkungan. Keberadaan siskamling, kondisi keamanan wilayah, hingga penerapan pembatasan jam malam bagi anak-anak menjadi sejumlah indikator.
Sedangkan pilar sosial budaya mencakup delapan indikator, salah satunya upaya kampung dalam menangani sekaligus mencegah stunting. (Red)
![]()
