Nasional

Ada Selisih Jumlah Sapi Dalam Bantuan Rp100 Juta di Petungkriyono, Kelompok Minta Pengadaan Diperiksa


Penulis : Meja Redaksi

Ada Selisih Jumlah Sapi Dalam Bantuan Rp100 Juta di Petungkriyono, Kelompok Minta Pengadaan Diperiksa

PEKALONGAN – Pelopornews.co.id – Penyaluran bantuan ternak sapi senilai Rp100 juta kepada Kelompok Ternak Arga Kencana di Desa Telogopakis, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, dipertanyakan. Ketua kelompok, Iwan, mengaku hanya menerima tujuh ekor sapi, sementara dokumen Rencana Anggaran Biaya (RAB) mencantumkan delapan ekor. Sabtu (19/9/2026).

Selain jumlah ternak, Iwan juga mempertanyakan spesifikasi sapi serta mekanisme pengadaan. Ia menyebut empat ekor sapi sempat ditarik kembali oleh pedagang sekitar sepekan setelah tiba di kandang karena pembayaran disebut belum lunas.

Iwan mengatakan kelompoknya memperoleh alokasi anggaran Rp100 juta dari bantuan Pemerintah Provinsi untuk pengadaan sapi. Ia mengaku tidak terlibat langsung dalam penyusunan proposal maupun proses pembelian.

Menurut Iwan, dirinya hanya diminta melengkapi persyaratan administrasi, mencari anggota kelompok, dan menandatangani sejumlah dokumen.

“Saya tidak tahu cara membuat proposal atau mengajukan bantuan. Saya hanya tanda tangan kalau ada surat yang kurang dan mencari anggota,” katanya saat dikonfirmasi, Kamis (17/9/2026).

Setelah dana dicairkan, Iwan mengaku mengambil uang tersebut. Namun, uang itu kemudian diminta oleh Daryono, yang disebutnya juga sebagai Ketua Kelompok Ternak Cakra Buana.

Iwan mengatakan dirinya mendapat informasi bahwa pembelian sapi tidak boleh dilakukan secara mandiri oleh kelompok dan harus melalui pihak tertentu.

“Katanya kalau dibelikan sendiri bisa kena sanksi,” ujar Iwan.

Ia mengaku sempat menahan uang tersebut selama satu hari untuk memastikan mekanisme pembelian sesuai ketentuan. Namun, karena merasa mendapat tekanan dan tidak memahami proses pengadaan, Iwan akhirnya menyerahkan seluruh dana kepada Daryono.

“Daripada saya ditakut-takuti dan saya tidak tahu apa-apa, akhirnya uang saya serahkan ke sana. Katanya mau dibelikan sapi sesuai RAB,” tuturnya.

Menurut Iwan, sapi tidak langsung datang setelah dana diserahkan. Ia mengaku menunggu sekitar tiga minggu sebelum ternak dikirim ke kandang kelompok.

“Awalnya katanya satu atau dua hari akan dibelikan. Sampai satu minggu, dua minggu belum ada. Akhirnya saya telepon dan saya samperin ke rumah Pak Daryono. Setelah itu baru dibelikan,” katanya.

Sapi yang tiba berjumlah tujuh ekor dan seluruhnya ditempatkan di kandang milik Iwan.

“Awalnya sapi dikirim tujuh ekor,” ujar Iwan.

Jumlah tersebut berbeda dengan RAB yang, menurut Iwan, mencantumkan delapan ekor sapi.

“Kalau di RAB jumlahnya delapan ekor, berarti masih kurang satu. Yang datang tujuh ekor,” katanya.

Sekitar satu pekan setelah sapi berada di kandang, empat ekor di antaranya disebut ditarik kembali oleh pedagang.

“Sekitar satu minggu sapi ditarik sama pedagangnya, jumlahnya empat ekor. Katanya karena belum lunas,” ungkap Iwan.

Penarikan tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai mekanisme pembayaran pengadaan sapi. Iwan mengaku telah menyerahkan seluruh dana bantuan sebesar Rp100 juta kepada pihak yang disebut bertanggung jawab atas pembelian.

“Padahal uang dari saya sudah saya kasih semua ke Pak Daryono,” ujarnya.

Setelah empat sapi ditarik, menurut Iwan, kembali didatangkan sapi sehingga jumlah ternak yang berada di kandangnya menjadi tujuh ekor. Namun, ia tidak menjelaskan secara rinci waktu kedatangan maupun asal sapi pengganti tersebut.

Kondisi ini masih perlu diklarifikasi melalui dokumen pengadaan, bukti pembayaran, harga pembelian per ekor, serta data jumlah ternak yang seharusnya diterima kelompok.

Selain jumlah, Iwan mempertanyakan jenis sapi yang diterima. Ia mengaku berharap sapi yang dibeli sesuai dengan spesifikasi dalam RAB, yakni jenis Simental.

“Saya mintanya jenis sapi Simental karena RAB-nya Simental. Yang datang menurut saya bukan Simental sesuai spesifikasi. Kalau Simental kan 100 persen, sementara yang datang saya melihat seperti persilangan,” katanya.

Pernyataan tersebut masih merupakan pengakuan dari pihak penerima bantuan dan memerlukan verifikasi terhadap dokumen RAB serta pemeriksaan kondisi fisik sapi oleh pihak berwenang.

Iwan berharap pihak terkait memeriksa proses penyaluran dan pengadaan bantuan tersebut. Ia meminta Daryono memberikan penjelasan mengenai penggunaan dana, jumlah sapi, spesifikasi ternak, serta pembayaran kepada pedagang.

“Tolong Pak Daryono diselidiki dan ditegur. Yang perlu diklarifikasi itu kelompok saya dan kelompok Cakra Buana,” ujarnya.

Iwan menyebut terdapat tiga kelompok yang menerima bantuan dan mengaku mengetahui bahwa proses pembelian sapi dilakukan oleh Daryono. Namun, ia menegaskan tidak mengetahui apakah kelompok penerima lainnya memperoleh jumlah dan spesifikasi sapi sesuai RAB.

“Kalau kelompok milik Daryono sendiri dibelikan delapan atau tidak, saya tidak tahu,” katanya.

Daryono yang dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp memberikan jawaban singkat.

“Sudah beres mas,” tulis Daryono.

Ketika kembali dimintai penjelasan mengenai penggunaan dana Rp100 juta, jumlah sapi yang dibeli, perbedaan antara RAB dan sapi yang diterima, spesifikasi sapi, serta alasan empat ekor sapi sempat ditarik pedagang, hingga berita ini disusun Daryono belum memberikan keterangan lebih lanjut.

Fakta yang telah disampaikan dalam laporan ini antara lain adanya alokasi bantuan sebesar Rp100 juta menurut keterangan penerima, pengakuan kelompok menerima tujuh ekor sapi pada tahap awal, serta keterangan bahwa empat ekor sapi sempat ditarik oleh pedagang.

Sementara itu, dugaan ketidaksesuaian jumlah dan spesifikasi sapi, mekanisme penggunaan dana, serta proses pengadaan masih memerlukan verifikasi dan klarifikasi dari pihak-pihak terkait.

Pemeriksaan terhadap dokumen RAB, bukti pencairan dan penggunaan anggaran, dokumen pengadaan, serta kondisi dan jumlah ternak penting dilakukan untuk memastikan kesesuaian penyaluran bantuan dengan ketentuan.

Hingga berita ini disusun, pemerintah provinsi sebagai pemberi bantuan, Pemerintah Desa Telogopakis, Pemerintah Kabupaten Pekalongan, serta dinas terkait yang menangani program bantuan peternakan belum memberikan tanggapan resmi mengenai alokasi anggaran, mekanisme pengadaan, jumlah dan spesifikasi sapi, maupun pengawasan penyaluran bantuan tersebut.

Kelompok penerima lainnya juga belum memberikan keterangan mengenai jumlah sapi yang mereka terima, kesesuaiannya dengan RAB, serta proses pengadaan yang mereka jalani.

(Edy)

Loading

Leave a Reply

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE